Berkat LPEI, Lezat dan Gurih Garam Laut Bali Makin Dikenal di Luar Negeri

16 Mei 2025
OLEH: Dimach Putra
Berkat LPEI, Lezat dan Gurih Garam Laut Bali Makin Dikenal di Luar Negeri
 

Mentari belum menyingsing, tapi di pesisir timur Bali, aktivitas beberapa warga sudah dimulai. Beberapa ibu-ibu nampak menuju bibir pantai sambil membawa pikulan di bahunya. Mereka lalu menampung air laut di kedua wadah yang dipikulnya agar seimbang. Perempuan-perempuan paruh baya nan perkasa itu lalu berjalan ke daratan dan menyiramkan air laut ke sebidang pasir pantai hitam kelam hingga merata ke permukaan. Hilir mudik, kegiatan itu mereka lakukan berulang-ulang.

Tradisi yang terjaga setengah milenia

Siapa sangka aktivitas yang dilakukan ibu-ibu di Klungkung, Bali ini telah dilakukan secara turun temurun. Yang mereka kerjakan ini adalah proses tradisional pembuatan garam khas pesisir timur Bali. Sebuah bentuk tradisi yang mereka jaga keberlangsungannya selama ratusan tahun. Menurut catatan sejarah, tata cara pembuatan garam seperti ini telah berlangsung sejak masa Kerajaan Klungkung sekitar tahun 1500 Saka atau tahun 1578 Masehi.

Proses sederhana yang mereka jaga selama ratusan tahun itu menghasilkan garam yang sudah teruji kualitasnya. Bahkan, cita rasa produk lokal ini sudah termasyhur hingga ke panggung global. Secara umum, masyarakat luas mengenalnya dengan nama Garam Kusamba Bali, diambil nama daerah tempat garam ini berasal. Serpihan kristal mineral ini kaya kalsium, magnesium dan potassium dan telah teruji klinis bebas kandungan timbal dan logam berbahaya. Selain kandungan yang baik bagi tubuh, garam yang memiliki tekstur sedikit lebih besar dan pipih dari garam kebanyakan ini memiliki karakter rasa yang tidak terlalu asin namun memberikan efek gurih ke makanan.

PetaniGaram.png
Tradisi pembuatan garam laut ini dimulai sejak era Kerajaan Klungkung di abad ke-16 (Foto: Dok. CV Natural Bali Kulkul)

Menjaga kualitas garam laut Bali

Salah satu penghasil garam khas Bali ini adalah CV Natural Bali Kulkul. Usaha yang dipimpin oleh Ni Putu Ayu Wilasmini ini menggabungkan metode tradisional dengan sentuhan modern agar menciptakan garam laut khas Bali yang lebih berkualitas dan lolos standar internasional. Putu Wilas menjelaskan bahwa pembuatan garam produksinya diawali dengan penghaturan sesaji sebelum memulai kegiatan di pagi hari. Proses berikutnya seperti sudah ditulis di atas, para pekerja memercikkan air laut di pikulan ke hamparan pasir yang telah disiapkan. Pasir Pantai berwarna hitam ini berfungsi sebagai filter natural yang mempertahankan kandungan mineral. Proses filtrasi ini membutuhkan waktu 7-8 jam sampai  air laut menguap ke permukaan pasir.

Tidak berhenti di situ, para petani garam ini lalu mencampur air laut dengan pasir di sebuah wadah untuk melanjutkan proses filtrasi yang berlangsung hingga 3 hari. Air garam sulingan dari proses tersebut dialirkan bilah bambu ke wadah penampungan. Untuk mendapatkan kualitas garam terbaik dan menghindari kontaminasi benda asing dilakukan langkah penyaringan terakhir dengan kain saringan halus. Terakhir, air garam saringan itu dijemur di sebuah fasilitas greenhouse yang telah dibangun oleh Putu Wilas. Proses penjemuran lambat yang berlangsung selama 6-7 hari ini menghasilkan kristal garam dengan kandungan kalsium, magnesium dan potassium yang terbentuk sempurna.

Putu menjamin garam yang ia produksi itu penuh dengan sentuhan cinta dari petani garam. Sekitar 80 persen pekerja di CV Natural Bali Kulkul ini merupakan ibu rumah tangga di sekitar Desa Jumpai yang berjuang mencari pemasukan tambahan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Proses produksi yang panjang dan masih tradisional hanya mampu menghasilkan  Kemurahan dan keberlimpahan alam yang diolah menggunakan tangan-tangan terampil mereka lah yang mampu menjaga keberlanjutan warisan nenek moyang selama 500 tahun, membawa garam laut Bali ini tersebar hingga ke dapur-dapur di penjuru dunia.  Garam Bali Kulkul ini telah terdistribusi ke kota-kota besar di Indonesia, produk ini bahkan telah berhasil diekspor ke Amerika, Prancis, Italia dan Jepang.

#UangKita mengantar garam Bali ke penjuru dunia

Berbagai usaha dilakukan Putu Wilas agar usahanya makin dikenal mendunia Salah satunya dengan mengakses pembiayaan yang berasal dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) melalui program Penugasan Khusus Ekspor (PKE). Salah satu special mission vehicle (SMV) di bawah Kementerian Keuangan ini mengelola delapan program PKE, yakni PKE untuk mendukung ekspor ke Kawasan Afrika, Asia Selatan, Timur Tengah, Eropa Timur, dan Amerika Latin, PKE Industri Farmasi serta Alat Kesehatan, PKE Trade Finance, PKE Usaha Kecil Menengah UKM), PKE Alat Transportasi, PKE Industri Penerbangan, PKE Destinasi Pariwisata Super Prioritas, dan PKE Pariwisata Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika.

Pembiayaan yang diakses oleh Putu Wilas berjenis PKE UKM. Program ini bertujuan untuk memberikan fasilitas pembiayaan kepada UKM yang melakukan ekspor (baik direct maupun indirect). Bentuk fasilitas yang diberikan adalah pembiayaan yang dapat dimanfaatkan untuk modal kerja & investasi dengan suku bunga yang cukup menarik, maksimal 6%. Berkat dorongan pembiayaan dari LPEI ini, Putu Wilas merasa produknya semakin bisa bersaing di kancah global. Tempat produksinya pun kini makin sering didatangi oleh pembeli dari penjuru dunia.

Sepanjang tahun 2024, LPEI mencatat penyaluran PKE mencapai lebih dari Rp7 triliun. Capaian ini mencerminkan komitmen LPEI dalam meningkatkan daya saing ekspor nasional dan berkontribusi pada developmental impact sebesar Rp18,3 triliun dalam ekosistem ekspor. Angka tersebut mencerminkan setiap Rupiah pembiayaan yang disalurkan oleh LPEI menghasilkan multiplier penciptaan devisa sebesar 2.59 kali. Sejak 2020 hingga Desember 2024, LPEI telah menyalurkan pembiayaan PKE senilai lebih dari Rp20 triliun, menjangkau lebih dari 90 negara tujuan ekspor.

OwnerBaliKulKuldanBuyer.png
Putu Wilas saat menjelaskan produknya kepada buyer internasional (Foto: Dok. LPEI)

Agar ekosistem garam tradisional Bali terus berlanjut

Putu Wilas bukan satu-satunya pengusaha garam laut Bali yang merasakan manfaat dari #uangkita. Pada November tahun 2021 silam pengurus Koperasi Lembaga Ekonomi Pemberdayaan Pesisir (LEPP) Mina Segara Dana, Pemerintah Kabupaten Klungkung dan Pemerintah Daerah Provinsi Bali serta LPEI bekerja sama dalam meluncurkan Desa Devisa Uyah Kusamba. Program desa devisa sendiri sejatinya merupakan sebuah program lain dari LPEI dalam memberikan pendampingan berbasis pengembangan masyarakat atau komunitas (community development). Program Desa Devisa memberi kesempatan bagi wilayah yang memiliki produk unggulan berorientasi ekspor untuk mengembangkan potensi secara ekonomi, sosial dan lingkungan bagi kesejahteraan masyarakatnya.

One village one product, begitu semangat yang ingin ditumbuhkan program ini agar tiap desa di Indonesia memiliki satu komoditas yang bisa dibanggakan. Untuk desa di Klungkung ini, komoditas kebanggaannya tentu Garam Kusamba. Desa ini memenuhi berbagai kualifikasi yang disyaratkan untuk mendapat pendampingan yaitu, memiliki komunitas dengan anggota kurang lebih 20 orang. Produk yang dihasilkan harus berorientasi ekspor. Terdapat stakeholder Lembaga pemerintah dan/atau perusahaan swasta yang berpartisipasi. Tujuan program ini adalah membangun/mengembangkan kapasitas masyarakat secara aktif berekelanjutan melalui kegiatan peningkatan kesejahteraan dengan cara ekspor.

 Melalui desa devisa, kawasan di pesisir Klungkung ini berhak mendapat pelatihan, pendampingan, dan bantuan sarana produksi. Komitmen ini menunjukkan keseriusan negara melalui #uangkita dalam mendorong tiap desa menciptakan komoditas andalannya hingga dikenal ke mancanegara. Bagi warga desa Kusamba, Upaya ini turut menjaga keberlanjutan warisan tradisi nenek moyang mereka yang telah bertahan hingga 5 abad. Harapannya tradisi tersebut masih dapat terus bertahan hinga generasi yang akan datang. Tak hanya bagi warga keturunan Kusamba, tapi juga seluruh dunia.


Dimach Putra