Ida Mujtahidah, Difabel Penerima LPDP yang Menjadi Lulusan Magister Tercepat UGM

16 Desember 2025
OLEH: Irfan Bayu Pradhana
Ida Mujtahidah, Difabel Penerima LPDP yang Menjadi Lulusan Magister Tercepat UGM
 

Keterbatasan fisik tidak pernah menjadi penghalang bagi Ida Mujtahidah untuk bermimpi dan melangkah jauh. Alumni penerima Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) ini membuktikan bahwa tekad, dukungan keluarga, dan akses pendidikan yang inklusif mampu membuka jalan prestasi seluas-luasnya.

Ida Mujtahidaha, atau yang akrab disapa Aida, merupakan lulusan Magister Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan capaian istimewa. Ia tercatat sebagai mahasiswa tercepat menyelesaikan studi di angkatannya, meraih IPK cumlaude, sekaligus menorehkan prestasi dengan tesis yang dinobatkan sebagai tesis terbaik program studi.

Lebih dari sekadar prestasi akademik, kisah Aida adalah cerita tentang keberanian menghadapi keterbatasan, keteguhan dalam memperjuangkan kemandirian, dan komitmen memperluas makna inklusivitas—khususnya bagi penyandang disabilitas di Indonesia.

 

Tumbuh di Lingkungan Pesantren

Aida lahir dan besar di Jombang, Jawa Timur, di lingkungan keluarga yang lekat dengan dunia pendidikan dan pesantren. Orang tuanya mengelola sebuah yayasan pondok pesantren. Sang ayah merupakan dosen di perguruan tinggi, sementara ibunya berprofesi sebagai guru.

Lingkungan ini membentuk Aida menjadi pribadi yang akrab dengan buku, diskusi, dan nilai-nilai keilmuan sejak usia dini. Perpustakaan keluarga menjadi ruang favoritnya. Di sanalah ia menghabiskan banyak waktu membaca buku sejarah, pengetahuan umum, hingga tafsir dan kajian keislaman khas pesantren.

Namun sejak kecil, Aida hidup dengan kondisi difabel daksa. Berbagai upaya medis telah dilakukan untuk mengetahui penyebab kondisinya, tetapi tidak ada diagnosis tunggal yang benar-benar pasti. Setiap dokter memberikan penafsiran berbeda. Alih-alih larut dalam ketidakpastian, Aida tidak ambil pusing. Ia telah menerima kondisinya dan memilih fokus untuk berkarya.

 

Dukungan Keluarga dan Keberanian Mandiri

Sebagai anak dengan disabilitas, Aida tumbuh dalam pengawasan dan perhatian penuh dari keluarga. Orang tuanya selalu menugaskan "mbak ndalem" untuk mendampinginya dalam berbagai aktivitas. Kekhawatiran itu wajar—namun seiring waktu, Aida justru ingin membuktikan bahwa ia mampu hidup mandiri.

Ketika mulai melanjutkan pendidikan sarjana, Aida membuat komitmen besar: belajar hidup lebih mandiri. Keputusan itu tidak mudah, tetapi menjadi titik penting dalam pembentukan karakternya.

“Sekarang alhamdulillah ke mana-mana sendiri. Terbang ke Bali sendiri sudah tidak masalah. Keliling Jawa juga sudah bisa,” katanya sambil tertawa kecil.

Kemandirian itu bukan hanya soal mobilitas, tetapi juga keberanian mengambil keputusan hidup dan bertanggung jawab atas pilihan-pilihannya sendiri.

 

Pendidikan sebagai Hak, Bukan Pengecualian

Bagi keluarga Aida, pendidikan bukanlah privilese, melainkan hak yang harus diperjuangkan. Orang tuanya tidak pernah membatasi langkah Aida hanya karena kondisi fisiknya.

“Di lingkungan pesantren, sering kali penyandang disabilitas hanya disimpan di rumah. Tapi saya beruntung. Orang tua saya membuka banyak pintu dan memberi kepercayaan,” tutur Aida.

Kepercayaan itu ia bayar dengan prestasi akademik yang konsisten. Ia membuktikan bahwa kesempatan yang setara akan melahirkan potensi yang luar biasa.

 

Lolos Beasiswa LPDP Sekali Coba

Tahun 2022 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidup Aida. Ia mengikuti seleksi Beasiswa LPDP—program beasiswa prestisius dari pemerintah Indonesia—dan berhasil lolos dalam satu kali percobaan.

Aida memilih Program Studi Hubungan Internasional (HI) untuk jenjang magister sejalan dengan ilmu sarjananya. Pilihan ini dulu sempat membuat ayahnya ragu. Namun Aida memiliki cara tersendiri untuk meyakinkan sang ayah.

Ia mengutip Surat Al-Hujurat ayat 13, yang menegaskan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal.

“Saya bilang ke Abah, ini ayatnya HI banget. Ini perintah Allah untuk mengenal bangsa-bangsa. Saya tidak sanggup menafsirkan semua ayat, saya ingin mendalami satu saja,” kenang Aida. Ayat itu menjadi jembatan antara keyakinan, ilmu, dan restu keluarga.

 

Menjadi Mahasiswa Difabel di UGM

Masuk ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM, Aida menghadapi tantangan baru. Meski UGM dikenal sebagai kampus inklusif, kenyataannya masih ada ruang-ruang yang perlu diperbaiki agar benar-benar ramah bagi penyandang disabilitas.

Salah satu pengalaman paling berkesan adalah ketika Aida menyampaikan langsung tantangan aksesibilitas kepada pimpinan fakultas. Ia diminta menunjukkan area kampus yang paling menyulitkan baginya.

Hasilnya, fakultas membangun jalur landai (ramp) yang sesuai dengan kebutuhan pengguna kursi roda dan kruk. Ramp tersebut menjadi hasil nyata advokasi bersama dan yang pertama menghubungkan beberapa tempat sekaligus di Fisipol UGM.

“Saya dikirimi foto oleh teman-teman BEM dan fakultas saat ramp itu dibangun. Itu bukan untuk saya pribadi, tapi untuk semua,” ujarnya. Bagi Aida, pendidikan inklusif bukan soal belas kasihan, melainkan soal hak dan keberlanjutan.

 

Lulus Tercepat dan Tesis Terbaik

Kerja keras Aida membuahkan hasil yang membanggakan. Ia tercatat sebagai mahasiswa tercepat lulus di antara mahasiswa Magister Hubungan Internasional konsentrasi MAIR angkatan 2023.

Pada November 2024, Aida resmi menyandang gelar magister. Tak berhenti di situ, tesis yang ia susun juga dinilai sebagai tesis terbaik program studi.

“Saya lulus pertama, dan setelah semua teman-teman lulus, saya dapat kabar bahwa tesis saya terpilih sebagai yang terbaik,” katanya dengan rasa syukur. Prestasi ini menegaskan bahwa penyandang disabilitas bukan hanya mampu bertahan di dunia akademik, tetapi juga unggul.

 

Kembali ke Jombang, Mengabdi Lewat Ilmu

Alih-alih mengejar karier di kota besar, Aida memilih kembali ke Jombang. Ia aktif membantu yayasan keluarga, YPI Miftahul Ulum, khususnya di bidang penelitian dan pengembangan. Istimewanya, yayasan tersebut juga memiliki beberapa siswa dengan disabilitas.

Selain itu, Aida menjadi peneliti independen di Jaringan Periset Disabilitas, terlibat dalam berbagai riset dan advokasi terkait isu disabilitas di Indonesia. Ia juga bergabung dengan sejumlah organisasi dan komunitas, seperti Ikatan Sarjana NU dan komunitas advokasi disabilitas lainnya.

Kegemarannya menulis membawanya terlibat dalam proyek penulisan buku serta menjadi editor sastra pesantren. Hingga kini, ia telah berkontribusi dalam penerbitan beberapa buku.

 

Menggaungkan Disability Awareness

Salah satu fokus Aida saat ini adalah meningkatkan disability awareness di lingkungan pondok pesantren. Ia melihat masih minimnya pemahaman tentang disabilitas di lembaga-lembaga pendidikan berbasis keagamaan.

“Tahun lalu saya menjadi panelis di Simposium Pondok Pesantren Indonesia dan membawakan isu disabilitas. Itu akan terus saya gaungkan,” ujarnya.

Ia juga mendorong pesantren untuk membangun fasilitas yang lebih ramah difabel, seperti akses jalan yang layak dan ruang belajar yang inklusif.

 

Tantangan yang Tak Selalu Terucap

Meski berasal dari keluarga terpandang, Aida tidak sepenuhnya bebas dari perundungan. Namun, bentuk perundungan yang ia alami lebih sering bersifat non-verbal, seperti pembatasan, dianggap berbeda, dipandang sebelah mata — baik oleh saudara, teman, pengajar, maupun orang lain di sekitarnya.

“Bukan kekerasan fisik atau kata-kata kasar, tapi cara memperlakukan, membatasi, atau memandang sebelah mata,” katanya.

 Menurut Aida, tantangan terbesar bagi penyandang disabilitas bukan hanya kondisi fisik, tetapi sistem sosial yang belum sepenuhnya berpihak.

 

Mimpi Melanjutkan Studi Doktoral

 

Aida masih menyimpan mimpi besar: melanjutkan studi ke jenjang doktoral. Baginya, ilmu adalah jalan untuk memberi manfaat lebih luas. Dan saat ini Aida telah selangkah lebih dekat, Aida telah lolos seleksi LPDP 2025 dan menjadi salah satu calon penerima beasiswa.

“Kalau ilmunya lebih banyak, insyaallah lebih bermanfaat. Semoga bisa, mohon doanya,” ujarnya.

 Untuk generasi muda Indonesia, Aida berpesan agar kepedulian sosial dibarengi dengan pengetahuan yang kuat. “Peduli itu penting, tapi ilmu juga harus. Ilmu adalah investasi paling berharga untuk perubahan masyarakat,” pungkasnya.