Musim Semi Jadi Saksi, Indonesia – Amerika Bernegosiasi
Suasana bulan April di Amerika Serikat adalah suasana musim semi yang menyenangkan. Bahkan musim semi digadang-gadang sebagai waktu terbaik berkunjung ke negeri Paman Sam. Di musim semi ini, ada dua agenda internasional yang mengumpulkan banyak negara di Washington, D.C., ibukota Amerika Serikat yakni The 2025 Spring Meetings of the World Bank Group (WBG) and the International Monetary Fund (IMF) dan The G20 Finance Ministers and Central Bank Governors.
Delegasi Indonesia juga terbang ke Amerika Serikat untuk menghadiri kedua agenda penting tersebut. Selain itu, delegasi Indonesia juga memiliki misi yang sangat penting. Kaitannya tentu saja dengan Kebijakan Tarif Resiprokal Presiden Trump. Musim Semi pun menjadi saksi bagaimana Indonesia dan Amerika bernegosiasi.
Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan bahwa delegasi Indonesia telah bertemu dengan beberapa pihak dari Amerika Serikat seperti Ambassador Jamieson Greer (United States Trade Representative), Howard Lutnick (United States Secretary of Commerce), Scott Bessent (United States Secretary of the Treasury), dan Kevin Hasset (Director of the National Economic Council).
“Indonesia adalah termasuk negara yang lebih cepat dan siap untuk menyampaikan suatu proposal negosiasi,” kata Menteri Keuangan, Sri Mulyani dalam Konferensi Pers APBN Kita April 2025 di Aula Mezzanine Kementerian Keuangan.
Menteri Keuangan menyatakan bahwa langkah cepat Indonesia tersebut mendapatkan pengakuan dan apresiasi dari Amerika Serikat. Ini tentu saja memberikan keuntungan posisi Indonesia dalam proses negosiasi ini dan diharapkan akan memberikan umpan balik yang positif.
“Sebagai negara yang lebih dulu dan cukup detail proposalnya kita dianggap baik dan mendapatkan apresiasi,” tambah Menteri Keuangan.
Poin-poin perundingan negosiasi antara Indonesia dan Amerika Serikat akan langsung dilaporkan kepada Presiden Trump dan untuk keputusan akhir ada di tangan Presiden Trump. Oleh karena itu, seluruh jalur yang dilakukan untuk kita berkomunikasi dan juga untuk menyampaikan berbagai proposal yang saling menguntungkan Indonesia dan Amerika menjadi sangat penting.

Negosiasi Indonesia ke Amerika Serikat: Kerja sama perdagangan yang adil
Dalam proses perundingan dan negosiasi Indonesia berupaya mengedepankan kepentingan nasional dengan tetap mendorong penguatan hubungan bilateral dengan Amerika Serikat.
“Upaya pendekatan Indonesia telah diterima dan diapresiasi dengan sangat baik oleh USTR, Commerce maupun Treasury, dan semua membuka ruang dialog serta memberikan kesempatan untuk pembahasan teknis secara detail dalam dua minggu ke depan dan juga terdapat momentum yang baik untuk mendorong reformasi struktural yang sekarang sedang dilakukan untuk mendorong perdagangan dan investasi,” kata Menko Perekonomian dalam Konferensi Pers Perkembangan Lanjutan Negosiasi Perdagangan Indonesia-Amerika yang dilakukan secara daring dari Washington DC.
Menurut Direktur Eksekutif Core Indonesia, Mohammad Faisal, mindset yang harus dibawa oleh Indonesia ketika bernegosiasi dengan Amerika Serikat tidak hanya mempersiapkan skenario ketika negosiasi membuahkan hasil, tetapi juga skenario cadangan jika Amerika Serikat tidak menerima proposal negosiasi dari Indonesia.
“Ya karena it’s gonna be tough. Kita mesti punya skenarionya bagaimana kalo “it’s no deal” bagi Amerika. Artinya Amerika tidak mau memenuhi tuntutan Indonesia atau hanya dipenuhi sebagian kecil, tapi syaratnya semua tuntutan Amerika harus dipenuhi. Nah, kalau seperti itu mestinya pemerintah Indonesia at some point juga harus bilang ‘tidak’,” ujar Faisal.
Dalam perundingan tersebut, Indonesia menawarkan kepada Amerika Serikat untuk mewujudkan kerja sama perdagangan yang adil. Tawaran ini sepenuhnya mengacu kepada kepentingan nasional dan dirancang untuk menjaga pertimbangan pada lima manfaat.
“Pertama, memenuhi kebutuhan dan menjaga ketahanan energi nasional. Kedua, memperjuangkan akses pasar Indonesia ke Amerika Serikat, khususnya dengan kebijakan tarif yang kompetitif bagi produk ekspor Indonesia. Ketiga, deregulasi untuk meningkatkan kemudahan berusaha perdagangan ini yang akan menciptakan lapangan pekerjaan. Keempat, memperoleh nilai tambah dengan kerja sama, supply chain atau rantai pasok industri strategis dan critical mineral. Kelima, akses ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai bidang antara lain kesehatan, pertanian, renewable energy,” papar Menko Perekonomian.
Faisal menambahkan bahwa Indonesia juga perlu berkaca dari pengalaman Vietnam dalam bernegosiasi dengan Amerika Serikat. Dalam konteks peer countries Vietnam termasuk yang paling besar ketergantungan pada pasar Amerika Serikat. Ini membuat Vietnam berani untuk menawarkan tarif resiprokal yang diturunkan sampai nol persen dengan syarat Amerika Serikat juga menurunkan tarif sampai nol persen. Namun, ini ditolak oleh Amerika Serikat.
“Sebagai bayangan bahwa tidak semudah itu ya (proses negosiasi -red). Kalau mindset Amerika Serikat adalah “win-win” dan judulnya adalah tarif resiprokal serta rebalancing, seharusnya kalau ‘zero’ dengan ‘zero’ bisa diterima. Tapi, ternyata Amerika Serikat bilang tidak cukup,” kata Faisal.
Indonesia Terbuka dan Berupaya Menggali Pasar Alternatif
Selain menunggu dan mengharapkan skenario hasil negosiasi Indonesia dapat diterima oleh Amerika Serikat, Indonesia juga diharapkan bisa memikirkan strategi dan langkah untuk bisa mencari pasar alternatif.
“Pemerintah bisa menggali pasar alternatif misalnya seperti Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Latin. Itu memang beberapa potensi yang belum secara maksimal menggali pasar-pasar alternatif itu. Nah, termasuk BRICS. Walaupun secara volume tidak sebesar Amerika, tapi itu bisa sebagai opsi yang harus kita coba,” ujar Faisal.
Menko Perekonomian menyampaikan bahwa saat ini Indonesia juga terus berupaya untuk membuka akses terhadap pasar-pasar produk industri nasional. Indonesia akan mengutamakan kerja sama bilateral maupun multilateral yang sudah ditandatangani dan sedang dalam proses. Beberapa langkah yang dilakukan Indonesia adalah menargetkan penyelesaian Indonesia- European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU-CEPA), membuka peluang ekspor dengan BRICS, dan memulai aksesi Indonesia di dalam Comprehensive and Progressive Agreement to Trans-Pacific Partnership (CPTPP)
“Kami sudah berkomunikasi dengan komisioner di I-EU-CEPA dan mereka pada prinsipnya sekarang sangat terbuka dan sangat ingin agar I-EU-CEPA ini segera diselesaikan. Jadi, ini perubahan yang cukup mendasar. Kemudian, tentu Indonesia baru masuk menjadi BRICS dan ini juga menjadi akses pasar yang baru dan juga aksesi Indonesia di dalam CPTPP. Nah itu akan membuka pasar baru baik itu UK, kemudian Meksiko dan beberapa negara latin Amerika lain,” tambah Menko Perekonomian.