Sekolah Rakyat Cirebon: Pendidikan Asrama Gratis Berkualitas Bagi Anak Keluarga Tidak Mampu

2 Desember 2025
OLEH: Reni Saptati D.I.
Sekolah Rakyat Cirebon: Pendidikan Asrama Gratis Berkualitas Bagi Anak Keluarga Tidak Mampu
 

Pagi itu, Daffa dan Faizan berlari kecil menuju ruang kelas dua SD usai mendengarkan arahan guru di halaman Sekolah Rakyat Cirebon. Keduanya tertawa dan saling bercanda sebelum akhirnya duduk di kelas bersama teman-temannya. Bagi dua anak yang dulu hampir putus sekolah itu, Sekolah Rakyat Cirebon telah menjadi rumah kedua. Dengan penuh semangat, mereka bercerita kepada Media Keuangan tentang betapa senang dan betahnya mereka di sekolah itu.

“Suka banget di sini karena banyak teman-teman. Lingkungannya juga bagus,” ucap Faizan dengan mata berbinar-binar.

“Senang, di sini senang. Temannya baik-baik. Saya juga mendapatkan banyak fasilitas gratis,” sahut Daffa antusias.

Mereka berdua adalah bagian dari 74 siswa Sekolah Rakyat Cirebon. Sekolah ini berlokasi di Pegambiran, Lemahwungkuk, Kota Cirebon dan berdiri di kompleks SMPN 18 Cirebon. Para siswa Sekolah Rakyat tinggal di asrama, makan bersama, juga belajar dan bermain bersama teman-temannya di area sekolah.

Daffa Zarul Zikran yang dikenal temannya dengan nama Daffa dan Muhammad Faizan yang biasa dipanggil Faizan, serta puluhan siswa lainnya di Sekolah Rakyat Cirebon adalah anak-anak yang berasal dari keluarga desil-1 dan desil-2. Dua desil ini merupakan kelompok ekonomi paling bawah di Indonesia yang sering belum berkesempatan mendapatkan pendidikan berkualitas. Kini mereka mendapatkan berbagai fasilitas di Sekolah Rakyat yang sebelumnya tak pernah mereka bayangkan. Ada tempat tinggal yang layak, lingkungan aman, perlengkapan sekolah, serta guru, wali asuh, dan wali asrama yang peduli dengan masa depan mereka.

Guru yang Mengayomi

Ketika pertama kali mengajar di Sekolah Rakyat Cirebon, Eva Azizah langsung melihat bahwa anak-anak yang datang ke sekolah ini bukanlah anak-anak biasa. Mereka berasal dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, banyak yang hampir putus sekolah, atau tidak mau melanjutkan belajar. Ia pun mendapati fakta bahwa sebagian anak-anak tersebut masih belum bisa membaca.

“Ada anak-anak yang belum bisa mengikuti pembelajaran karena dia terkendala belum bisa membaca. Maka di sini kami, guru, wali asuh, wali asrama, mengadakan kegiatan darurat membaca, terutama untuk anak SD. Bagaimana caranya anak SD ini supaya dia lebih cepat membaca, supaya dia bisa mengikuti pembelajaran seperti biasa,” ujarnya.

Kondisi itu membuatnya sadar bahwa tugas di Sekolah Rakyat Cirebon memiliki tantangan tersendiri. Siswa yang ia hadapi sedikit berbeda dibanding siswa lain yang pernah dia temui sebelumnya. Selain hadir untuk mengajari mereka mata pelajaran, Eva juga berkomitmen untuk membantu memperbaiki fondasi kehidupan anak-anak generasi penerus bangsa ini. Eva percaya bahwa melalui pendidikan, ia dapat membantu supaya hidup anak-anak Sekolah Rakyat Cirebon bisa menjadi lebih baik lagi. Motivasi Eva sederhana, ia ingin bermanfaat bagi orang lain. Eva ingin bermanfaat bagi anak-anak Sekolah Rakyat Cirebon.

“Saya tidak bisa memberikan hal material, tetapi kita bisa memberikan pendidikan yang baik, bisa memberikan semangat kepada mereka untuk bisa menjadi orang yang lebih baik lagi, dan bisa menanamkan nilai-nilai karakter supaya mereka hidupnya bisa menjadi lebih baik lagi,” ungkap Eva.

Eva percaya pendidikan adalah cara paling kuat untuk mengangkat anak-anak ini dari keterbatasan yang membelenggu. Ia terjun langsung membantu murid-muridnya membangun kembali karakter dan semangat belajar. Menurutnya, metode pembelajaran yang paling tepat untuk para siswanya di Sekolah Rakyat Cirebon adalah metode problem based learning. Metode ini melatih kemampuan diskusi dan kemampuan berpikir anak-anak tersebut. Selain itu, karena banyak siswa kelas rendah belum mengenal huruf, Eva menggunakan metode kinestetik dan visual untuk mengakselerasi pembelajaran. Ia meminta siswa menggambar benda terlebih dahulu, lalu mengajarkan cara menuliskan kata dari gambar tersebut.

Menjadi guru di sekolah berasrama juga membawa tantangan tersendiri bagi Eva. Para siswa tinggal penuh di sekolah dengan jadwal dari pagi hingga malam. Banyak dari mereka yang awalnya sedih dan kaget karena jauh dari orang tua. Di sinilah peran guru, wali asrama, dan wali asuh menjadi sangat penting. Mereka memberi motivasi, membangun kedekatan, dan memastikan anak-anak tetap kuat menghadapi perubahan besar ini.

Keluarga prasejahtera di Indonesia kini memiliki harapan baru berkat adanya pendidikan gratis dan fasilitas lengkap yang disediakan pemerintah melalui program Sekolah Rakyat. Harapan Eva, Sekolah Rakyat Cirebon terus berlanjut dan berkembang karena banyak masyarakat yang merasa terbantu dengan kehadiran Sekolah Rakyat.

“Semoga Sekolah Rakyat ini semakin sukses, karena banyak sekali orang di luar sana yang ingin anaknya sekolah di sini, terutama untuk dari desil 1, desil 2. Mereka para orang tua merasa terbantu sekali. Mereka bisa tenang untuk pendidikan anaknya. Jadi harapannya untuk pemerintah supaya program ini nanti terus berlanjut,” tutur Eva.

Kesempatan Mengakses Pendidikan Berkualitas

Kepala Sekolah Rakyat Cirebon Khaerunisa mengungkapkan Sekolah Rakyat Cirebon didirikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang belum mendapatkan akses pendidikan yang berkualitas. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang minim keteladanan dan batasan moral yang jelas. Mereka juga tidak memiliki rutinitas positif yang dapat membantu mereka hidup di luar lingkungan masyarakatnya.

“Akibatnya, anak-anak ini mengalami krisis karakter. Anak-anak ini juga rawan kekerasan dan yang lebih parahnya mereka tidak mendapatkan dukungan moral dan kasih sayang dari orang tua yang terlalu sibuk memenuhi kebutuhan dasarnya,” kata Khaerunisa.

Kehadiran Sekolah Rakyat Cirebon memiliki visi besar untuk melahirkan murid sebagai agen perubahan yang cerdas, mandiri, serta berdaya saing tanpa terhambat oleh keterbatasan ekonomi. Khaerunisa menyebut bahwa Sekolah Rakyat berupaya untuk menyediakan kesempatan bagi anak-anak yang punya keterbatasan ekonomi untuk mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas dan inklusif.

Selain itu, Sekolah Rakyat Cirebon juga mengemban misi untuk mengembangkan keterampilan hidup dan keterampilan teknis sehingga mereka dapat bersaing, serta menanamkan karakter welas asih, kepemimpinan, kejujuran, disiplin, dan etika kerja sehingga menjadi pribadi yang bertanggung jawab.

Bagi masyarakat Cirebon dan sekitarnya, Sekolah Rakyat juga dinilai membawa dampak positif. Menurut Khaerunisa, salah satu dampak sosial yang didapat adalah membaiknya gizi para siswa karena mereka mendapatkan makan bergizi 3x sehari dan snack bernutrisi 2x sehari.

“Sekolah Rakyat memberikan harapan baru kepada orang tua dan masyarakat. Dengan anak-anak mereka mendapatkan pendidikan yang berkualitas, anak-anak ini diharapkan dapat mengangkat mereka keluar dari lubang kemiskinan,” tutur Khaerunisa.

Keberlanjutan Sekolah Rakyat Cirebon bergantung kepada dukungan dari masyarakat dan para pemangku kepentingan. Ia berharap komitmen itu tidak terputus sebab di sekolah ini terdapat anak-anak yang menggantungkan masa depannya. Sekolah Rakyat Cirebon mampu membuka jalan pendidikan bagi anak-anak yang sebelumnya tidak memiliki kesempatan. Dengan dukungan yang konsisten, sekolah ini dapat terus menjadi ruang yang mengangkat mereka dari keterbatasan menuju masa depan yang lebih layak.


Reni Saptati D.I.