Thalita Amalia, Alumni LPDP dari UCL yang Nyaris Putus Sekolah SMP

20 Mei 2024
OLEH: Irfan Bayu Pradhana
Thalita Amalia, Alumni LPDP dari UCL yang Nyaris Putus Sekolah SMP
 

Thalita Amalia, wanita asal Sukabumi yang hampir tak bisa meneruskan pendidikannya, saat ini adalah alumni LPDP dari University College London program magister Education and International Development, dan merupakan Co-Founder dari Solve Education, sebuah lembaga organisasi filantropi dan sosial yang bergerak di bidang teknologi pendidikan. Bagaimana cerita Thalita berjuang untuk bisa terus mengenyam pendidikan hingga berada di titik saat ini?

Nyaris Putus Sekolah

Thalita Amalia, gadis desa asal Sukabumi, lahir di tengah keluarga yang amat sederhana. Ayahnya sudah lama tak bekerja. Sementara ibunya adalah ibu rumah tangga biasa. Tumbuh besar di daerah bernama Cicurug, Thalita ditempa keadaan. Sulung dari tiga bersaudara ini sempat berjualan keliling bersama ibunya.

Thalita harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa dia harus kehilangan sang Ibu saat dia baru berada di kelas 2 SMP. Sementara sang Ayah bekerja sebagai satpam di salah satu pabrik garmen di dekat tempat tinggalnya. Gaji Ayahnyanya tak begitu besar dengan 3 anak sebagai tanggungan. Ayahnya berkata jika dia sudah tak mampu untuk membiayai sekolah Thalita.

Namun Thalita menolak untuk mengibarkan bendera putih. “Saya di situ nggak menerima karena mungkin udah terekspos dengan bacaan juga. Bacaan fiksi, buku di perpustakaan. Jadi (saya) melihat dunia lebih luas daripada kampung halaman. Saya nggak mau kalau nggak sekolah karena melihatnya saya kayaknya bisa deh keluar dari kampung, ke kota, bahkan ke luar negeri. Itu sudah punya bayangan dari kecil,” terang Thalita.

FotoKecilGenmasV2.jpg

Menolak Menyerah

Thalita mencari jalan lain. Dia mencoba meminta tolong ke kerabat dan tetangga. Dengan tekad kuat, ia mendatangi saudara dan tetangga satu per satu. Akhirnya, ada kerabatnya yang mau membantu membiayai sekolahnya. “Beliau sebetulnya juga bekerjanya di pabrik juga, pabrik farmasi. Namun pemikirannya sangat progresif. Beliau adalah orang tua asuh juga jadi bukan saya saja yang dibantu, tapi ada juga anak-anak yang lain,” cerita Thalita.


Beruntung, orang tua asuh Thalita membantunya membiayai pengeluaran pendidikannya. Mulai dari SPP, uang jajan, hingga kebutuhan lainnya. Thalita pernah berkata pada mereka jika nanti dia sudah bekerja dan mampu menghasilkan uang sendiri, dia akan segera mengembalikan apa yang telah mereka berikan. Namun jawaban mereka tak terduga. “Beliau bilang enggak usah, kami memang membantu. Kalau kamu punya rezeki, bawa adik-adikmu untuk sekolah. Kalau punya rezeki tambahan lagi, bantu anak-anak yang lain,” kenang Thalita. Kata-kata itu sangat membekas dalam diri Thalita. Ia terinspirasi. Pemikirannya menjadi lebih terbuka. Memberikan kebermanfaatan menjadi tujuan hidup baru Thalita.

FotoKecilGenmasV3.jpg

Pergi ke Bandung

Setelah lulus SMA, Thalita yang memang sangat ingin berkuliah harus memutar otak lagi. Pasalnya, orang yang membiayai pendidikan SMA-nya juga punya keterbatasan. Akhirnya dengan bermodal uang Rp.50.000,00 di 2006 silam, Thalita memberanikan diri ke Bandung. Pikirnya, saat itu dia harus ke kota besar dulu meski belum ada rencana matang di kepalanya.

Dia teringat bahwa Ayahnya punya teman di kampung yang saat ini bekerja di Bandung. Tanpa pikir panjang, dicarilah beliau. Teman Ayahnya ini bekerja sebagai Guru SMK, itu juga yang memudahkan Thalita dalam mencarinya. Respon beliau tentu saja kaget melihat sosok gadis jauh-jauh ke Bandung untuk menemui dirinya. Lebih terkejut lagi ketika Thalita mengungkapkan keinginannya untuk bisa bekerja dan melanjutkan kuliah.

Singkat cerita, Thalita menjadi anak angkatnya dan diberikan tempat di rumahnya untuk tinggal sementara. Setelah Thalita mendapat pekerjaan, walau masih serabutan, dia baru berpindah ke kos sederhana di kota kembang tersebut. Thalita yang sempat bekerja di Radio akhirnya bisa mengumpulkan sedikit uang untuk berkuliah.

Thalita memilih UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) sebagai tempatnya menimba ilmu. “Aku ambil jurusan yang aku pikir nih akan memudahkanku untuk mengeksplorasi karir di mana saja. Akhirnya aku ambil jurusan bahasa Inggris,” ungkap Thalita. Beruntung Thalita mendapatkan beasiswa selama berkuliah di UPI. Walau begitu Thalita tetap bekerja di sela-sela perkuliahannya hingga dia lulus.

“Jadi kan aku nge-kos di Jalan Jakarta, sementara kampus UPI di Ledeng. Kuliah dimulai jam 07.00 pagi. Jadi ya harus bangun subuh, naik angkot ke sana. Kemudian beres kuliah jam 15.00 terus pergi lagi, pulang naik angkot lagi. Kemudian bekerja di radio dari jam 5 sampai jam 2 malam setiap hari. Kadang-kadang Lebaran pun aku nggak pulang biar dapat uang,” kenang Thalita.

FotoKecilGenmasV4.jpg

Go Abroad

Pada 2012, Thalita berhasil menyelesaikan pendidikan Sarjananya. Seperti belum puas, Thalita masih terus ingin mendalami ilmunya. Semua kesempatan dia coba hingga dipertemukan dengan salah satu beasiswa yang mengantarnya ke perjalanan luar negeri pertamanya. Walaupun beasiswanya termasuk non gelar, Thalita diberi kesempatan untuk menjadi asisten profesor untuk membantu mengajar bahasa dan budaya Indonesia di salah satu universitas di Amerika, tepatnya di The University of Hawai’i at Manoa, USA.

“Jadi mengajar dan mengambil kuliah juga di sana. Dari situ aku mengambil jurusan-jurusan pendidikan dan politik, kemudian jurusan-jurusan lain yang nggak melulu bahasa Inggris atau bahasa. Jadi tambah terbuka lagi wawasannya,” jelas Thalita yang kemudian menyelesaikan program itu di 2015.

Salah satu profesor yang dibantunya di Amerika menyarankannya untuk segera melanjutkan kuliahnya. Dia merekomendasikan University College London (UCL)  untuk melanjutkan pendidikannya. Tak salah pilih, memang waktu itu UCL adalah salah satu perguruan tinggi terbaik dunia untuk bidang Pendidikan. Thalita langsung memilih LPDP sebagai kendaraan untuk mencapai mimpinya itu. Benar saja, dengan pengalamannya, Thalita berhasil mulus mendapatkan beasiswa LPDPnya. Thalita mengambil jurusan Master of Arts in Education and International Development, searah dengan ilmu yang didapat sebelumnya. Pendidikannya di London diakui Thalita berjalan dengan baik. London sebagai kota multikultural dengan beragam komunitas juga membantunya untuk cepat beradaptasi. Yang paling membuatnya bersyukur adalah tidak ada rasisme yang menimpanya selama dia belajar di negara tersebut.

Thalita berada di London hingga 2017. Perjalanan panjang itu sangat membekas baginya, terutama persahabatan yang dia rasakan selama tinggal disana. “LPDP itu karena konsepnya kekeluargaan, persahabatan, guyub. Jadi sampai sekarang pun aku masih cukup guyub dengan teman-teman. Kemudian di sana yang LPDP pun jadinya guyub juga. Apalagi kami waktu itu nggak terlalu banyak jadi kan lebih guyub,” cerita Thalita. “Persahabatan itu kan juga yang membuka jalan ke berbagai pintu jejaring,” sambungnya.

FotoKecilGenmasV5.jpg

Mengikuti Godaan atau Pulang

Tantangan selanjutnya yang dihadapi hampir seluruh mahasiswa Indonesia setelah belajar di luar negeri apalagi di kampus top dunia biasanya adalah tawaran-tawaran menggiurkan dari pekerjaan ataupun proyek dengan gaji tinggi di luar sana. Thalita mengalami hal serupa. Banyak tawaran silih berganti, namun di dalam benaknya pertama kali setelah menyelesaikan studi-nya adalah untuk pulang ke Indonesia. Belum ada plan apapun memang, tapi Thalita hanya ingin segera pulang.

“Mungkin karena latar belakang juga bahwa aku dari desa, merantau, keinginan untuk kembali itu jauh lebih besar dibandingkan untuk menetap di sana. Aku ingin kalau bisa pulang ke Indonesia,” ujarnya. “Aku pikir kemampuanku atau skill ku itu bisa lebih bermanfaat di Indonesia dibanding negara lain. Karena aku mempelajari intersection between education and development di banyak negara, yang membutuhkan skill-ku itu ya negaraku,” lanjutnya lagi.

Berawal dari dipertemukan teman sekampusnya dulu, Thalita bertemu dengan Jenine, anak muda asal Singapura. Merasa satu frekuensi, mereka membicarakan banyak hal hingga tercetus ide untuk membuat lembaga pendidikan gratis. Bukan tanpa alasan, kondisi masyarakat yang masih banyak kesenjangan dan akses pendidikan yang belum merata menjadi pemicunya.

“Awalnya cuman, yuk kita bikin proyek ini belajar apa gitu yang kecil-kecil, belajar bahasa Inggris bagaimana. Mulailah (kami) bermitra dengan komunitas di Bekasi, ngajarin anak-anak bahasa Inggris. Dari situ bertumbuh bertumbuh sampai bikin apps,” ujar Thalita ketika ditanya bagaimana Solve Education mulai dibentuk pertama kali.

FotoKecilGenmasV6.jpg

Solve Education

Solve Education adalah organisasi filantropi yang bergerak di bidang teknologi pendidikan dan pemberdayaan, khususnya untuk anak muda. Mereka berfokus pada pendidikan praktis seperti Bahasa Inggris, matematika dasar, literasi keuangan serta Pendidikan yang sifatnya langsung ke real oriented atau hospitality untuk menunjang pemberdayaan anak muda ini di abad ke-21.

“Dan flagship program kami adalah bahasa Inggris karena memang itu skill yang sangat versatile sekarang sebagai bahasa pengetahuan dunia,” ucap Co-Founder Solve Education ini. “Jadi misinya itu karena bahasa Inggris ini diterima dengan baik ya kami membayangkan gimana kalau 100 juta orang Indonesia lancar dan fasih berbahasa Inggris. Kayaknya kita bisa keren banget ini. Kami pengennya mereka enggak usah khawatir lagi dengan biaya kursus bahasa Inggris yang mahal. Kami akan bisa sediakan dengan gratis,” tambahnya.

Saat ini solve education berfokus pada website application mobile friendly bernama edbot.ai, dengan menggunakan teknologi generative AI untuk konten dan pengalaman belajarnya. Nantinya pengguna akan berinteraksi dengan bot bernama ED, atau kependekan dari education. Sistem ini yang nanti akan mengarahkan proses pembelajaran dengan dibuat lebih menyenangkan dengan sedikit game-nya.

Selain itu mereka juga bekerja sama dengan banyak pihak, salah satunya dengan pemerintah daerah untuk memberikan aplikasi pembelajaran. Ada juga NGO dan komunitas lokal yang menggunakan kemampuan mereka dengan harapan membuat impact yang semakin besar lagi. Selain itu, Solve education saat ini juga bisa dijumpai di media sosial seperti instagram (@solveeducation) dan youtube (Solve Media), di mana banyak pembelajaran gratis didalamnya. Menginjak tahun ke-7, Solve Education telah memiliki beberapa kantor dan memiliki sekitar 40 pegawai.

“Aplikasi ini dibuat Indonesia, tapi juga dipakai di Malaysia, di Bangladesh, dan Nigeria. Teknologi yang dikembangkan oleh anak-anak bangsa. Jadi luar biasa banggalah dengan pencapaian yang sudah kami raih ini,” kata Thalita dengan bangga.

FotoKecilGenmasV7.jpg

Keberlanjutan

Seperti lembaga filantropi dan startup kebanyakan, permasalahan yang sering dihadapi adalah keuangan. Namun Thalita mengaku di tengah banyaknya gejala seperti pandemi covid-19 serta permasalahan yang ada di dunia bisnis, Solve Education masih mampu bertahan. Alasannya adalah kedua tokoh sentral dibaliknya, Thalita dan Jennie, yang menerapkan asas kehati-hatian di dalam segala kegiatannya.

“Salah satu faktornya karena aku dan Janine ini sama visinya. Kemudian karena kami juga perempuan jadi lebih hati-hati mengelola dana, jadi lebih hati-hati, tidak gampang mengeluarkan spending. Itu yang akhirnya membuat solid institusinya,” cetus Thalita yang juga seorang Ibu.

Tantangan lainnya adalah tentang keberlanjutan. Bagaimanapun, program yang baik adalah yang berkesinambungan. Oleh karenanya, dia membuat unit-unit usaha demi tak bergantung pada uang pribadi atau donasi. “Salah satunya kami membuat produk-produk yang dipasarkan untuk membiayai program belajar ini. Jadi misalnya flask (botol minum) ini karya seninya dibuat oleh siswa dan siswi yang belajar di program kami,” terang Thalita menunjukan produknya dengan bangga.

FotoKecilGenmasV8.jpg

Hidup dalam Kebermanfaatan

Dengan segala pencapaiannya saat ini, Thalita tak menyesali untuk memilih jalan yang dia ambil sekarang. Namun ada satu penyesalan dalam hatinya, “salah satu penyesalan terbesar adalah kenapa aku nggak belajar lebih baik? Kenapa aku nggak lebih serius lagi belajar?” katanya.

Menurut Thalita, kehidupannya dulu yang penuh tantangan adalah satu yang membuatnya kuat saat ini. Sifat tak mudah menyerah dan lebih banyak bersyukur adalah hasil tempaan masa kecilnya dulu. “Istilah bahasa Inggrisnya shape me who I am today dan aku mensyukuri semua yang sudah terjadi di hidupku,” ujarnya.

Thalita menganggap harapan hidup yang berjalan mulus itu tak realistis. Baginya hidup akan selalu mempunyai lika-liku dan tantangannya masing-masing, namun itu juga yang mengantarkan kita ke sebuah pintu kesempatan. “Tapi aku ingin teman-teman yang sedang berjuang ini tetap semangat terus untuk berjuang. Memang berat, berliku-liku jalannya, tapi selalu ingat ada kesempatan di balik semua masalah,” pesannya.

“Mimpi besarku adalah aku ingin menghabiskan sisa hidupku itu lebih banyak untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat dan berkontribusi dibandingkan dengan mengkritisi. Aku ingin hidup bermanfaat karena itu jadi berkah buat diri kita dan juga orang lain,” ucap Thalita. Alumni LPDP ini selalu mengingat prinsip filsafat “it's not what you bear, it’s how you bear it.” “Hidup itu bukan tentang masalah apa yang kita hadapi, tapi bagaimana kita menghadapi masalah tersebut,” pungkasnya.