Serba Serbi Presidensi G20

Laporan Utama
15 Agustus 2022
OLEH: Reni Saptati D.I.
Serba Serbi Presidensi G20

Istana Bogor dikunjungi tamu dari jauh pada Minggu, 17 Juli 2022. Direktur Pelaksana International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva datang dan bertemu langsung dengan Presiden Joko Widodo persis sehari setelah pertemuan ketiga Finance Ministers and Central Bank Governors (FMCBG) di Bali berakhir.

Dalam perbincangan, wanita yang menjabat sebagai Direktur Pelaksana IMF sejak 2019 tersebut sempat menyampaikan apresiasi atas kesuksesan Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan FMCBG pada saat situasi dunia penuh tantangan. Pemulihan ekonomi sebagai dampak pandemi masih berjalan. Konflik geopolitik Rusia-Ukraina masih berlangsung. Kenaikan komoditas, pangan, dan energi yang memicu inflasi membayangi dunia. Penyelenggaraan pertemuan G20 menjadi tidak mudah, namun Indonesia berhasil melaksanakannya dengan lancar.

A perfect host

Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan Internasional Wempi Saputra mengungkapkan apresiasi juga datang dari para delegasi G20 lainnya, baik saat pertemuan berlangsung maupun setelahnya. Menurutnya, ada dua poin apresiasi yang secara tegas disampaikan oleh para delegasi. Pertama, mereka sangat menghargai peran Indonesia dalam menyelenggarakan dialog yang lengkap dan proporsional. Kedua, mereka mengapresiasi keberanian Indonesia untuk mendorong aksi nyata.

“Masing-masing partisipan diberikan kesempatan secara proporsional. Kita menjaga keutuhan G20. Ini maybe one of the biggest achievement, demikian sebagian anggota G20 katakan. Kalau tidak, nanti G20 bisa pecah jika kita cenderung kepada kelompok tertentu. Namun, Indonesia berada di tengah-tengah,” jelas Wempi.

Ia menceritakan walaupun partisipan keras menyuarakan pendapatnya dalam pertemuan, tetapi situasi tetap kondusif. Indonesia memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh partisipan dalam forum, termasuk yang ingin menyampaikan kecaman atau ketidaksetujuan, serta yang ingin menjawab kecaman atau ketidaksetujuan tersebut. Ketika pembicaraan berubah ke topik lain, pertemuan berjalan lancar.

Sebagai tuan rumah, Indonesia berupaya menyajikan hospitality yang bagus. Mulai dari makanan dan minuman enak, pertunjukan beragam, hingga side event menarik. Tak mengherankan jika muncul kalimat pujian bahwa keramahtamahan Indonesia tak tertandingi.

“Menurut mereka Indonesia is always a perfect host. Hospitality-nya unmatch. Mulai dari liaison officer yang keren, sapaannya bagus, knowledgeable tapi juga rapi dan wangi. Scenery oke, kopi enak, makanan enak, ruangan comfortable. Para delegasi tidak pernah protes sedikitpun,” kisah Wempi.

Meski terjadi banyak diskusi di antara para partisipan, Indonesia juga fokus mendorong ada aksi nyata dari tiap pertemuan yang memberi dampak signifikan bagi masyarakat dunia. “Kita tagih supaya G20 tidak bicara retorika saja, tetapi menyampaikan aksinya,” ujar Wempi.

Wempi menerangkan pertemuan FMCBG ketiga di Bali menghasilkan Chair’s Summary atau catatan hasil diskusi dan kesepakatan yang terdiri atas dua bagian dan empat belas paragraf. Dua paragraf pertama berisikan pesan kuat dari mayoritas anggota G20 bahwa konflik Rusia-Ukraina menyebabkan perlambatan pemulihan ekonomi global. Sementara, paragraf 3 sampai dengan 14 berisikan dukungan mayoritas anggota G20 untuk menyuarakan aksi nyata.

Dalam bidang kesehatan, G20 menyetujui pembentukan Financial Intermediary Fund (FIF) yakni dana perantara keuangan untuk pencegahan, kesiapsiagaan, dan respons terhadap pandemi di masa depan. Sebelas negara dan tiga filantropi telah memberikan komitmen pendanaan sebanyak 1,3 miliar USD.

“Beberapa kalangan skeptis bahwa isu (dana perantara keuangan) ini bisa dibahas, malah sekarang kontribusinya 1,3 miliar dolar dari sebelas negara dan tiga filantropi. Negara lain yang ada di pipeline juga berkomitmen, namun belum memberi angka,” tambah Wempi.

Capaian nyata lainnya yakni lahirnya Asia Initiative Bali Declaration dari sebelas negara untuk melalukan MoU bersama pertukaran informasi perpajakan. Kesebelas negara tersebut ialah Indonesia, India, Jepang, Singapura, Brunei, Korea, Malaysia, Maldives, Thailand, Hongkong, dan Makau. Menurut Wempi, pertukaran informasi perpajakan ini merupakan salah satu upaya untuk meyakinkan orang atau perusahaan yang beroperasi lintas negara bahwa pembayaran pajaknya proporsional. Kesepakatan ini akan memperkuat transparansi pajak dan meningkatkan kerja sama dalam melawan upaya penghindaran pajak.

Pertemuan di Bali lalu juga menyepakati satu komitmen yang disebut Resilience and Sustainability Trust (RST), yaitu dana perwalian sebagai cadangan jika terjadi krisis atau untuk pendanaan jangka panjang, seperti untuk perubahan iklim atau pandemi. Dana ini berasal dari realokasi Special Drawing Rights (SDR).

“Jadi, negara-negara maju yang punya SDR banyak disimpan di IMF. Gunanya untuk cadangan kalau terjadi krisis atau pendanaan jangka panjang, misalnya climate change atau pandemi. Dana ini sebagian direalokasi untuk membantu negara-negara low income. Jumlahnya 73 miliar dolar, targetnya mencapai 100 miliar dolar pada Oktober 2022,” Wempi menjelaskan lebih lanjut.

Aksi nyata lainnya ialah terkait laporan penanganan aset kripto dari Financial Stability Board (FSB), sistem pembayaran, cetak biru pembiayaan dan pengembangan teknologi infrastruktur, serta ringkasan dan panduan indikator kualitas investasi infrastruktur. Menurut Wempi, dua produk terkait infrastruktur tersebut mampu menjadi referensi bagi negara-negara berkembang lainnya.

“Misal kita ingin punya proyek SPAM (sistem pelayanan air minum) di suatu daerah. Lalu, pemda atau pihak swasta yang terlibat ingin menggaet investor global. Investor ini akan melihat kita sudah mematuhi atau belum dengan standar investasi global. Sepanjang kita sudah patuh dan mereka cukup yakin dengan kesiapan dan kapasitas itu, nanti bisa bernegosiasi,” terang Wempi.

Dalam pertemuan FMCBG ketiga, G20 juga mempublikasikan laporan Kajian Independen atas Capital Adequacy Frameworks dari Modal Multilateral Development Banks (MDBs). Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang memimpin pertemuan FMCBG ketiga menyebut MDBs memiliki peran penting dalam menyediakan pembiayaan yang terjangkau untuk mendukung pemulihan ekonomi dan untuk membantu mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

“Keliatannya ini simpel, hanya laporan. Namun kalau laporan ini menjadi benchmark, jadi saat ini masih ditelaah oleh para lembaga internasional seperti Bank Dunia dan IMF, nanti mereka bisa melakukan optimasi neraca. Kalau ini bisa dilakukan, artinya kapasitas pendanaan bagi negara-negara berkembang dan negara negara miskin semakin besar,” jelas Wempi.

Dengan kapasitas pendanaan yang kian besar, kesempatan negara-negara miskin dan berkembang untuk membiayai pembangunan dan penanganan pandemi di negaranya menjadi lebih luas. Langkah publikasi laporan ini akan memberi dampak positif bagi masyarakat dunia.

Keterbatasan waktu dialog dalam forum utama G20 terkadang menjadi salah satu hambatan pembahasan topik tertentu. Dalam hal ini, side events menjadi solusi untuk pembahasan topik-topik tertentu secara lebih lengkap. (Foto : Anas Nur Huda)

Manfaat side events

Indonesia selaku pemegang presidensi G20 memiliki tanggung jawab untuk menjaga integritas dan efektivitas G20. Untuk itu, Indonesia juga menjaga dialog dan konsensus tentang isu yang sangat penting bagi stabilitas dan kemakmuran ekonomi global. Kepala Pusat Kebijakan Regional dan Bilateral (PKRB) Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Nella Sri Hendriyetty mengatakan Indonesia mendorong semua negara untuk tetap fokus bekerja sama dalam agenda yang akan dicapai sesuai tema Recover Together Recover Stronger.

Untuk mendukung narasi Recover Together Recover Stronger, Indonesia juga menyelenggarakan sejumlah side events. Menurut Nella, side events memegang peranan strategis sebagai forum untuk mengubah ide-ide yang ada menjadi dialog, dialog menjadi kebijakan, dan kebijakan menjadi dampak. Keterbatasan waktu dialog dalam forum utama G2 terkadang menjadi salah satu hambatan pembahasan topik tertentu. Dalam hal ini, side events menjadi solusi untuk pembahasan topik-topik tertentu secara lebih lengkap.

Menurut Nella, side events juga memiliki keistimewaan dari sisi keterlibatan pihak yang ikut. Forum utama G20 terbatas sebab hanya diikuti oleh kalangan pemerintahan, sedangkan pembahasan agenda G20 juga memerlukan pemikiran dari sisi pakar. Penyelenggaraan side events mempertemukan berbagai pihak dengan pemikiran masing-masing.

Side events menjadi kesempatan yang sangat baik bagi para kepentingan global dan nasional, pemerintah, swasta, kalangan industri besar dan kecil, serta masyarakat luas untuk bertukar pikiran dan diskusi demi kebaikan bersama,” tutur Nella.

Hasil tukar pikiran dalam side events juga mempengaruhi penyusunan komunike. Selain itu, side events mampu menjadi ajang showcase bagi citra positif kemajuan dan nilai budaya Indonesia. Ia meyakini side events ini memiliki manfaat yang besar bagi masyarakat dunia dan mendukung tercapainya tujuan penyelenggaraan forum G20.

“Ada empat topik besar side events. Pertama, digital economy and finance, yang kedua itu policy normalisation, ketiga green inclusion and sharia economy, yang keempat adalah international taxation,” jelas Nella.

Wempi mengungkapkan side events juga dimanfaatkan untuk mengangkat beberapa hasil pertemuan utama G20 agar diketahui oleh khalayak. Dalam salah satu side event, Indonesia meluncurkan country platform untuk mekanisme transisi energi. Platform tersebut merupakan kerangka kerja untuk menyediakan pembiayaan yang diperlukan untuk mempercepat transisi energi nasional dengan memobilisasi sumber pendanaan komersial maupun non-komersial secara berkelanjutan.

“Indonesia menjadi pionir untuk inisiatif negara memberikan kebijakan di bidang mekanisme transmisi energi, mempensiundinikan pembangkit batu bara yang non-renewable menjadi sesuatu yang lebih renewable. Negara lain belum ada yang punya piloting ini, jadi Indonesia yang pertama,” terang Wempi.

Meskipun berjalan lancar, pelaksanaan side events bukan berarti tidak ada tantangan. Nella mengatakan acara side events juga melibatkan para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral yang sudah padat jadwal kegiatannya sehingga pihak penyelenggara perlu benar-benar memperhatikan dan menyesuaikan jadwal mereka. Pihak penyelenggara berupaya keras agar para delegasi G20 tetap merasa nyaman di tengah beragam kesibukan.

Sebagai salah satu pihak yang terlibat langsung dalam penyelenggaraan side events G20, Nella mengaku puas dengan kegiatan di Bali pada pertengahan Juli lalu. Menurutnya, para pembicara maupun audiens menunjukkan antusiasme dan ketertarikan yang besar. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan berkualitas sehingga menghasilkan diskusi yang menarik dan juga berkualitas. “Bahkan kalau saya bilang, hasil-hasil diskusi yang ada bisa dijadikan satu paper,” pungkasnya.


Reni Saptati D.I.