Bahaya di Balik Goda Minuman Berpemanis

18 Maret 2024
OLEH: Reni Saptati D.I.
Foto oleh Irfan Bayu P.
Foto oleh Irfan Bayu P.  

Manusia sudah mengenal si manis gula sejak ribuan tahun lalu. Namun, konsumsi gula berlebih mulai terjadi sejak beberapa dekade terakhir. Rasa manis memang bisa menjadi adiksi bagi manusia. Gula sebagai sumber utama rasa manis dapat memicu pelepasan dopamin di otak. Dopamin ini menghasilkan perasaan senang dan bahagia, yang membuat manusia ingin kembali mengonsumsi. Saat ini banyak sekali varian makanan dan minuman manis, antara lain berbentuk minuman berpemanis dalam kemasan.

Di Indonesia, data Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI) menyatakan konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan di Indonesia naik 15 kali lipat dalam 20 tahun terakhir (1996-2014). Laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dirilis Kementerian Kesehatan pada 2018 juga menyebutkan sebanyak 61,27 persen masyarakat Indonesia berusia tiga tahun ke atas mengonsumsi minuman manis lebih dari satu kali per hari. Data ini memperlihatkan tingginya konsumsi masyarakat Indonesia terhadap gula.

Fakta lain menunjukkan saat ini ketersediaan minuman berpemanis dalam kemasan terus meningkat. Masyarakat dengan sangat mudah membeli dan mengonsumsi, terutama anak-anak dan remaja yang sering menjadi target iklan produk minuman berpemanis dalam kemasan. Bahkan, mereka bisa membeli sendiri di toko terdekat rumah dan mengonsumsi dengan bebas tanpa adanya pengawasan yang cukup dari orang tua.

Harga yang murah, pemasaran yang agresif, serta varian produk yang beragam, menjadi beberapa pemicu kenaikan tajam konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan, baik itu berupa minuman ringan, jus buah, minuman energi, teh atau kopi siap minum, maupun susu. Kadar gula di dalam setiap kemasan standar pun biasanya sangat tinggi, hingga mencapai 10 sendok teh. Padahal, ada implikasi serius dari konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan ini bagi kesehatan masyarakat Indonesia. Ada bahaya mengintai di balik minuman berpemanis dalam kemasan, khususnya bagi masa depan anak-anak Indonesia.

Gula berlebih berdampak ke semua organ

Minuman berpemanis dalam kemasan dengan kadar gula yang sangat tinggi memberi dampak buruk bagi kesehatan. Hal tersebut ditekankan oleh Dokter Spesialis Anak dari Mayapada Kuningan Hospital dan Klinik KiDi Pejaten dr. Kurniawan Satria Denta, M.Sc, Sp,A atau yang biasa dikenal dengan nama dr. Denta. Ia menjelaskan, pada dasarnya tubuh manusia tidak dirancang untuk memetabolisme atau mengolah gula-gula yang berlebih.

“Gula itu bermacam-macam. Karbohidrat dalam nasi itu juga ada gulanya. Cuma kalau kita bicara dalam konteks minuman berpemanis dalam kemasan, yang kita bicarakan adalah gula tambahan atau sering disebut dengan sukrosa. Nah, tubuh manusia tidak dirancang untuk mengolah sukrosa tersebut. Kalau karbohidrat, kita bisa mengolahnya dengan baik. Kalau sukrosa, ketika dia berlebihan, itu bisa membebani tubuh kita,” jelas dr. Denta.

Dokter lulusan Universitas Gadjah Mada tersebut menjelaskan ketika manusia mengonsumsi gula berlebih, maka livernya akan terbebani. Gula tambahan tidak bisa langsung diubah menjadi energi. Sebagian besar gula tambahan dimetabolisme oleh hati dan berujung disimpan sebagai lemak. Lama-kelamaan, lemak itu akan menumpuk di liver manusia, lalu melebar ke berbagai organ tubuh manusia lainnya.

“Lemak di perut meningkat, lemak di pembuluh darah juga meningkat, akhirnya nanti akan terjadi gangguan metabolisme. Efeknya macam-macam, mulai dari berat badan berlebih, obesitas, resisten insulin, diabetes, gagal jantung, gagal ginjal, sampai kanker, stroke, gangguan cemas, bahkan demensia, itu bisa disebabkan oleh konsumsi gula berlebih,” tegas dr. Denta.

Saat ini prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas di Indonesia juga meningkat. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2018, satu dari tiga (35 persen) orang dewasa di atas 18 tahun, satu dari lima (20 persen) anak-anak berusia 5-12 tahun, dan satu dari tujuh (15 persen) remaja berusia 13-18 tahun mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Kejadian tersebut turut meningkatkan risiko penyakit tidak menular di tengah masyarakat, seperti penyakit jantung, diabetes, dan kanker.

Tak hanya itu, kelebihan berat badan dan obesitas juga mengakibatkan dampak psikologis dan sosial, seperti stigma berat badan, pengucilan dari masyarakat, depresi, kepercayaan diri yang rendah, dan kurangnya pencapaian akademik. Di sisi lain, anak-anak dan orang dewasa yang mengalami kelebihan berat badan dan obesitas juga dapat lebih rentan terkena penyakit menular.

Lebih lanjut, dr. Denta menjelaskan tidak ada satu organ pun di dalam tubuh manusia yang bisa bebas dari komplikasi akibat konsumsi gula berlebih. Sebagai contoh, ia menyebut bagaimana kulit manusia berpotensi mengalami jerawat, gampang kering, serta gampang luka akibat konsumsi gula berlebih. Kemudian, ia menerangkan bagaimana mata berpotensi mengalami kebutaan akibat pembuluh darah di sekitarnya gampang pecah pada penderita diabetes.

“Ginjal juga begitu. Kebanyakan gula, tidak bisa diolah, merusak ginjal, terus gagal ginjal. Semuanya. Hati, jantung, pembuluh darah, otak, sistem pencernaan, semua sistem dalam tubuh kita itu tidak ada yang bebas dari komplikasi konsumsi gula berlebih,” dr. Denta menerangkan.

Ia menyadari saat ini dunia industri memahami dengan baik bagaimana minuman berpemanis dapat menimbulkan adiksi, khususnya pada anak-anak. Menurut dr. Denta, semakin muda usia seseorang terpapar minuman berpemanis, semakin mudah dia kecanduan.

“Makanya, kalau minuman berpemanis dalam kemasan buat anak-anak kebanyakan warnanya bagus, kemasannya lucu, warna-warni segala macam. Akhirnya membuat anak jadi lebih mudah untuk minta ke orang tuanya dan diberikan ke orang tuanya, dan sekali diberikan dia langsung kecanduan dan lebih susah untuk lepas dari kecanduan gulanya,” ujar dr. Denta prihatin.

Solusi pembatasan konsumsi

Edukasi tentang bahaya konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan sudah sering dilakukan oleh kalangan medis dan pemerintah. Namun, dr. Denta mengatakan edukasi tersebut menjadi lebih menantang karena sudah banyak masyarakat yang mengalami masalah adiksi gula.

“Begitu seseorang menjadi adiksi, sudah kecanduan, kita lebih susah mau memberikan pemahaman ke mereka. Mau sepintar apapun latar belakang pendidikan mereka, kalau sudah kecanduan gula, mau kita bilang bagaimana pun mereka akan sulit. Kenapa? Kalau orang kecanduan itu kan otaknya sudah kena. Mereka sudah tidak bisa berpikir dengan jernih. Ini sama juga terjadi dengan adiksi-adiksi yang lain, seperti rokok, tembakau, alkohol, dan lain sebagainya,” tutur dr. Denta.

Dokter spesialis anak yang juga aktif memberikan edukasi kesehatan melalui media sosial tersebut menilai edukasi saja tidak cukup untuk menurunkan konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan di Indonesia. Menurutnya, akses terhadap minuman berpemanis dalam kemasan di Indonesia sangat gampang dan konsumsi masyarakat juga sangat tinggi.

“Jadi kesulitannya ada di situ. Kesulitannya adalah lingkungan kita atau ekosistem di Indonesia itu masih sangat mendukung konsumsi berlebih dari minuman berpemanis dalam kemasan atau atau produk-produk gula berlebih lainnya,” ungkapnya.

Menurut dr. Denta, solusi yang bisa dilakukan saat ini adalah pemerintah harus berani untuk membatasi akses terhadap minuman berpemanis dalam kemasan. Pembatasan ini sudah dilakukan oleh banyak negara lain di dunia. Tidak hanya oleh negara maju, tetapi juga negara-negara berkembang, sama halnya seperti Indonesia.

“Saya rasa kebijakan cukai bisa membatasi konsumsi terhadap minuman berpemanis dalam kemasan. Kebijakan itu bisa jadi salah satu pilihan utama,” dr. Denta berpendapat.

Sejumlah negara di dunia telah berhasil menurunkan konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan di negaranya melalui kebijakan cukai. Pemerintah Meksiko memperkenalkan cukai sebesar satu peso per liter (10 persen) untuk semua minuman berpemanis pada Januari 2014. Akibatnya, pada tahun 2014 penjualan berpemanis turun rata-rata 6-8 persen. Kebijakan ini berdampak paling besar pada rumah tangga dengan status sosial ekonomi rendah, berada di perkotaan, dan rumah tangga dengan anak-anak.

Negara tetangga Filipina juga telah memperkenalkan cukai minuman berpemanis pada Januari 2018. Mereka menaikkan harga minuman berpemanis sebesar 14 persen, salah satunya untuk mengurangi tingkat obesitas pada masyarakat. Sementara itu, Inggris mengenakan retribusi pada industri minuman ringan pada April 2018. Kebijakan tersebut diumumkan pada tahun  2016. Salah satu tujuan kebijakan itu yakni mengurangi tingkat obesitas pada anak-anak di Inggris.

“Sudah ada beberapa negara (yang menerapkan cukai pada minuman berpemanis dalam kemasan), seperti di Australia, Filipina, Malaysia juga ada. Dan impact-nya cukup positif ya,” kata dr. Denta.

Selain pengenaan cukai pada minuman berpemanis dalam kemasan, dr. Denta juga mengusulkan pemerintah membuat regulasi agar ada transparansi informasi dari produk-produk minuman berpemanis dalam kemasan yang ada di pasaran. Salah satu praktik penerapan transparansi informasi kadar gula ini misalnya dengan pemberian label pada kemasan.

“Misalnya kalau gulanya tinggi nanti ada levelnya merah, kalau gulanya oke dia hijau, dan lain sebagainya. Aturan untuk transparansi informasi itu juga bisa salah satu kunci. Jadi masyarakat juga bisa memilih dengan baik apa yang dikonsumsi,” usulnya.

Lindungi anak-anak dan ciptakan masa depan sehat

Saat ini dr. Denta menilai sudah banyak anak-anak Indonesia yang mengalami adiksi minuman berpemanis dalam kemasan. Ia berharap, selain adanya kebijakan dari pemerintah yang mampu membatasi konsumsi gula berlebih, keluarga dan lingkungan di sekitar anak-anak pun mampu memberikan contoh yang baik tentang apa asupan yang baik bagi kesehatan anak-anak.

“Sebenarnya diawali dari lingkungannya. Dari contoh yang mereka lihat dari bapak ibunya, dari pengasuhnya, dari paman, kakek, neneknya. Anak kita akan punya kebiasaan hidup yang tidak sehat kalau rumahnya punya kebiasaan yang tidak sehat. Kalau ingin anak kita hidup sehat, berarti kita harus memiliki gaya hidup yang sehat juga. Jika ingin generasi penerus kita lebih sehat, kita harus memberikan contoh yang baik,” saran dr. Denta.

Selain membatasi konsumsi minuman berpemanis, ia juga merekomendasikan agar orang tua membiasakan anak-anaknya untuk makan real food, buah-buahan, makanan yang dibuat sendiri di rumah, dan menghindari makan makanan yang ada dalam kemasan.  Lebih lanjut, ia menyarankan orang tua untuk benar-benar membatasi konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan pada anak-anaknya. Dampak buruk minuman berpemanis dalam kemasan bagi kesehatan anak-anak sangatlah nyata. Apalagi, gula dapat menimbulkan adiksi, sementara anak-anak belum memiliki kemampuan pengendalian diri yang baik atas apa yang ia konsumsi.

“Orang dewasa itu lebih gampang mengendalikan diri. Anak lebih susah. Kalau anak sudah melihat orang tuanya minum minuman berpemanis sekali, walau besoknya orang tuanya tidak minum pun dia akan tetap minta, besoknya lagi dia akan tetap minta lagi. Karena anaknya sudah kecanduan, karena sudah adiksi. Jadi harus hati-hati sekali,” pungkas dr. Denta.


Reni Saptati D.I.