Artikel
Melinda Damayanti tak pernah membayangkan bahwa langkah kecilnya dari pesisir Cilacap akan membawanya menjadi akademisi, penerima beasiswa LPDP, sekaligus pendiri brand tenun populer Kainnesia. Lahir dari keluarga sederhana—ayah seorang koki hotel dan ibu rumah tangga—Melinda tumbuh dengan pesan tunggal dari orang tuanya: sekolah setinggi mungkin. Pesan itu menjadi pendorong utama perjalanan pendidikannya.
17 November 2025
Hingga akhir September 2025, dari 13.484 kali penindakan yang dilakukan, DJBC berhasil menyita total 816 juta batang rokok ilegal. Jumlah tersebut naik tajam sebesar 37% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Adapun rokok ilegal yang disita didominasi oleh 72,9% Sigaret Kretek Mesin (SKM); 21,3% Sigaret Putih Mesin (SPM); dan sisanya 5,8% adalah jenis lain.
7 November 2025
Pemerintah mencatat realisasi Transfer ke Daerah (TKD) hingga akhir September 2025 sudah mencapai Rp644,9 triliun atau sekitar 74,2 persen dari pagu anggaran pasca Instruksi Presiden. Angka ini naik tipis dibandingkan periode yang sama tahun lalu karena perbaikan penyampaian dan pemenuhan syarat salur.
4 November 2025
Emas tetap jadi pilihan investasi aman di tengah ketidakpastian ekonomi. Pelajari tren terbaru, kelebihan, kekurangan, dan cara cerdas berinvestasi emas — dari zaman kerajaan hingga era digital.
4 November 2025
Julukan Begawan Ekonomi memang melekat pada nama Sumitro Djojohadikusumo. Namun bagi keluarga, sahabat, dan murid-muridnya, ia lebih dulu seorang ayah, kakek, guru, dan sahabat. Gelar itu tak semata lahir dari reputasi akademik atau kiprah politiknya, tetapi dari cara ia menempatkan diri: sederhana, penuh humor, dan selalu mengingatkan bahwa ekonomi sejatinya adalah tentang manusia.
31 Oktober 2025
Nama Sumitro Djojohadikusumo tak hanya tercatat dalam sejarah sebagai begawan ekonomi Indonesia, tetapi juga sebagai guru kehidupan yang sederhana, tajam berpikir, dan setia pada nilai-nilai kemanusiaan. Di mata banyak orang, ia bukan sekadar ekonom, melainkan pengajar yang menanamkan arti pengabdi
31 Oktober 2025
Di usia belum genap tiga puluh tahun, Sumitro Djojohadikusumo sudah menorehkan kiprah di panggung diplomasi dunia. Dari ruang sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa hingga meja perundingan Konferensi Meja Bundar, ia tampil sebagai ekonom muda yang lantang membela kedaulatan Indonesia. Di balik kerapian jas dan dasinya, Sumitro menyimpan kegelisahan seorang intelektual: bagaimana bangsa yang baru lahir ini bisa benar-benar merdeka, bukan hanya secara politik, tetapi juga secara ekonomi. “Tidak ada pilihan lain bagi Republik Indonesia selain menempuh jalannya sendiri dan berjuang sekuat tenaga sebagai negara yang merdeka dan berdaulat sepenuhnya,” tulisnya tegas dalam surat terbuka di The New York Times pada 21 Desember 1948 — sebuah seruan yang menggema hingga ke ruang rapat Dewan Keamanan PBB.
30 Oktober 2025
Sumitro Djojohadikusumo selalu meyakini bahwa ekonomi tak bisa dipisahkan dari semangat kebangsaan. Baginya, ekonomi bukan sekadar hitung-hitungan angka dan teori di ruang kuliah saja. Ekonomi adalah alat perjuangan, sebuah sarana untuk membebaskan rakyat dari ketertindasan. Ia menolak gagasan pembangunan ekonomi harus dibayar dengan ketergantungan pada modal asing tanpa kendali, yang menurutnya merupakan bentuk penjajahan baru yang lebih halus.
30 Oktober 2025
Sejarah Indonesia sering dikenang lewat kisah heroik para pejuang bersenjata. Namun, ada perjuangan lain yang tak kalah penting: perjuangan intelektual. Salah satunya datang dari ekonom dan negarawan Sumitro Djojohadikusumo, arsitek fiskal yang bekerja sunyi di balik kedaulatan ekonomi Indonesia.
30 Oktober 2025
Sumitro bukan sekadar akademisi. Ia adalah perancang jalan berpikir ekonomi Indonesia — sosok yang meletakkan fondasi bagi lahirnya generasi ekonom modern dan institusi yang hari ini menjadi jantung intelektual ekonomi nasional: FE-UI dan LPEM UI.
23 Oktober 2025
Sumitro menawarkan gagasan dan keberanian untuk membangun ekonomi nasional yang tangguh dan modern, sembari tetap terbuka pada dunia internasional. Peran dominan negara dalam mengatur jalannya perekonomian terlihat melalui kebijakan yang lahir pada 1950-an, yakni "Rencana Sumitro" yang menitikberatkan pada industrialisasi dan "Program Benteng."
22 Oktober 2025
Menjadi peneliti di Indonesia sering dianggap profesi “kurang cuan”. Tapi bagi Rizal Azis, peneliti muda lulusan University of Nottingham dan penerima beasiswa LPDP, ilmu pengetahuan bukan soal uang—melainkan kontribusi untuk kemanusiaan. Tahun 2024 lalu, Rizal mencatat sejarah sebagai pemegang hak paten di Inggris untuk media kultur sel punca non hewani (xeno-free)—temuan penting di dunia bioteknologi yang menekan biaya riset dan terapi sel punca secara signifikan.
17 Oktober 2025